Nama     : Suryani Nurfadillah

NRP    : H34100112

Laskar    : 20

Cerita Inspirasi I

Kisah ini bermula saat saya memutuskan kemana saya akan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi. Pada saat itu saya tertarik pada teknik nuklir, kemudian saya mencari beberapa info tentangnya. Kemudian saya mengutarakan keinginan tersebut pada orang tua saya. Ternyata orang tua saya kurang menyetujuinya alasannya karena beresiko terhadap kesehatan dan mereka juga tidak berani melepas saya untuk hidup sendiri di kota Jogja (karena satu-satunya universitas yang memiliki jurusan teknik nuklir adalah UGM). Menurut mereka Jogja bukan merupakan kota yang baik untuk saya karena kehidupan mahasiswa disana terlalu bebas tanpa batasan. Karena menurut saya alasan-alasan tersebut masuk akal, saya setuju untuk tidak melanjutkannya, lagipula masih banyak hal-hal yang menarik bagi saya.     Saya pun mencoba membicarakan pilihan saya yang lain pada orang tua saya, yaitu di bidang bisnis, seperti apa yang sudah digeluti ayah saya selama bertahun-tahun. Kali ini mereka setuju dan sangat senang mengenai hal ini. Namun saya tidak mau belajar bisnis yang biasa-biasa saja. Saya ingin bisnis yang lebih spesifik dan berbeda dari apa yang selama ini digeluti oleh ayah saya. Lalu saya memutuskan untuk memilih agribisnis. Saya juga tidak sembarangan memilih universitas. Saya ingin universitas yang sudah spesialis di bidangnya dan kalau bisa di luar kota tempat saya tingga, di luar Malang. Kemudian eyang saya menyarankan IPB, dan saya meng-iya-kannya.     Ternyata saya melakukan keteledoran, saya melewatkan informasi mengenai USMI sehingga saya melewatkan kesempatan berharga yang saya miliki. Saya pun memutuskan untuk mengikuti UTM.    Kemudian, saudara-saudara saya menganjurkan saya mencoba kedokteran sambil menunggu waktu UTM. Bahkan guru-guru saya menginginkan saya menjadi dokter. Mereka bilang saya mampu dan lagipula peluang masuk lewat jalur tes itu kecil. Bahkan guru BK saya selalu menawarkan brosur-brosur fakultas kedokteran pada saya. Karena saya kurang menanggapi, maka guru saya mencoba mengutarakannya pada orang tua saya pada saat pertemuan wali murid. Orang tua saya sangat menyetujuinya dan mencoba membujuk saya mati-matian. Mereka berdalih ini hanya untuk jaga-jaga jika saja ujian saya meleset. Saya pun setuju untuk mencoba mendaftar di jurusan lain hanya untuk jaga-jaga. Orang-orang di sekitar saya terus mendesak untuk mencoba kedokteran. Saya setuju asalkan tanpa tes, karena saya hanya ingin fokus ujian di UTM ataupun SNMPTN. Karena pada saat itu hanya UNEJ (Universitas Negeri Jember) yang masih membuka pendaftaran PMDK maka saya mencoba mendaftar disana. FKG UNEJ terkenal paling baik di Jawa Timur, jadi saya memilih FKG daripada FKU. Guru BK saya sangat bersemangat membantu saya, beliau yang mengurus semua kelengkapan berkas-berkas saya. Saya hampir tidak melakukan apa-apa dan hanya berkonsentrasi dengan UTM saya. Beberapa bulan kemudian pengumuman UNEJ keluar. Teman saya yang sama-sama mendaftar disana melihatkan hasil ujian di internet saya setelah saya beri no pendaftaran saya. Saya diterima di Fakultas Kedokteran Gigi. Hal tersebut membuat orang-orang disekitar saya sangat gembira. Namun saya masih was-was menunggu pengumuman hasil UTM IPB. Beberapa minggu kemudian saya dinyatakan diterima di jurusan Agribisnis IPB. Ini adalah hal yang benar-benar membuat saya gembira. Namun sepertinya orang-orang dekat saya menginginkan saya memilih UNEJ. Saya sangat bingung, di satu sisi saya ingin melanjutkan studi di IPB dan di sisi lain saya sudah dterima di UNEJ. Semua orang menyuruh saya melepas IPB karena mereka pikir menjadi dokter lebih bergengsi dan lebih menjanjikan. Saya bingung bagaimana bersikap terhadap orang-orang yang selama ini ada di dekat saya, terutama dengan guru saya yang sudah banyak menolong saya selama ini dan teman saya yang sangat mengharapkan diterima. Saya pun memutuskan untuk menyatakan pilihan saya kepada orang tua saya terlebih dahulu. Saya berusaha meyakinkan orang tua saya dengan keputusan saya untuk memilih IPB. Saya mengatakan bahwa saya tidak cocok bila harus bekerja di bidang kedokteran. Saya lebih senang bila bergelut di dunia bisnis. Orang tua saya memahaminya dan mendukung saya penuh. Saya masih bingung bagaimana harus menyampaikan hal ini pada guru saya. Akhirnya ayah saya menemani saya menyampaikan hal ini pada guru saya. Ternyata beliau juga mendukung saya dalam pilihan ini, beliau berkata yang penting adalah kesenangan dalam menjalaninya, bukan karena terpaksa. Saya sangat senang melihat reaksinya. Sejak saat itu banyak orang yang menyatakan kekecewaannya pada saya, mereka berkata bahwa apa yang saya capai bukanlah hal yang mudah, banyak orang yang menginginkannya tapi saya malah main-main dengannya. Saat itu saya merasa bersalah pada orang-orang yang telah banyak membantu saya. Dan juga pada teman saya yang sebenarnya sangat ingin diterima disana tapi berbesar hati mengizinkan saya ikut mendaftar diUNEJ. Bahkan saya juga sempat harus menghadap kepala sekolah karena keputusan ini. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk membuat surat pengunduran diri secepatnya agar posisi saya bisa segera digantikan dengan siswa lain. Saya sedikitpun tidak kecewa terhadap keputusan yang saya ambil. Memang sulit saat harus mengutarakan keputusan itu kepada orang-orang. Memang sulit saat harus menerima reaksi negatif dari orang. Memang sulit saat diliputi rasa bersalah terhadap sahabatmu sendiri. Tapi mengambil keputusan yang tepat tentang masa depanmu, tentang apa yang kau sukai dan apa yang akan membuatmu senang akan membuat semua kesulitan-kesulitan itu menghilang. Semuanya akan baik-baik saja dalam beberapa waktu. Dan seperti itulah yang aku rasakan sekarang. Semua kembali normal dan yang terpenting adalah… aku bahagia menjalaninya.

Cerita Inspirasi II

Ini kisah tentang salah satu dari delapan sahabatku di masa SMA. Namanya Nanda. Sekilas dia seperti anak SMA pada umumnya, tapi menurutku dia berbeda, dia dewasa. Dimulai saat kami ber-20 dikumpulkan untuk masuk dalam kelas baru setelah kami menjalani serangkaian tes. Dia dan dua orang temanku lainnya dipanggil ke belakang untuk diajak bicara oleh guru kami. Mereka bertiga dipanggil untuk diberi tahu bahwa bergabungnya mereka dalam kelas kami merupakan suatu kecelakaan. Tapi guru kami tetap memberikan mereka kesempatan untuk bergabung dalam kelas ini tetapi disertai dengan banyak syarat. Itu jelas bukan hal yang ringan bagi mereka bertiga. Kami saja sudah merasa berat dengan kewajiban untuk mejaga dan meningkatkan prestasi belajar kami apalagi mereka. Tapi ketiganya pun menyanggupi demi masuk ke kelas kami.     Baru hari pertama kami efektif belajar, satu orang diantara kami sudah gugur dan memutuskan untuk kembali ke kelas asalnya. Selama setahun kami belajar sungguh-sungguh, disaat teman-teman sebaya kami masih main-main kami sudah harus belajar sana-sini. Kami mulai bosan dan lelah sehingga kami mulai santai-santai dan mengabaikan pelajaran kami. Akibatnya niai kami pun merosot. Nanda adalah satu-satunya orang yang masih semangat belajar. Dia adalah orang yang masih belajar di tempat bimbel saat kami sudah penat dan pergi main-main keluar. Dia juga masih tetap belajar ketika satu per satu dari kami pergi pulang. Dia satu-satunya diantara kami yang tak pernah bolos bimbel saat kami merasa bosan. Tak sedikit pun ia terpengaruh untuk ikutan main pada waktu belajar. Nilainya pun sedikit demi sedikit naik, perlahan tapi pasti. Aku salut padanya. Dia sangat tekun dan berkomitmen. Ia memegang teguh janji yang diucapkannya saat akan bergabung dalam kelas kami. Beberapa bulan terakhir sebelum kami lulus, ia sering datang pagi-pagi dan menangis di kelas. Pada bulan-bulan itu, dia yang biasanya naik angkot ke sekolah jadi sering diantar ayahnya. Ia sering sekali bertengkar mulut dengat ayahnya. Dan hampir tiap pagi ia selalu bertengkar oleh ayahnya di atas sepeda dalam perjalanan ke sekolah. Sehingga tangisannya dibawa sampai ke sekolah. Ada saja masalah yang diributkan dengan sang ayah. Tapi kami semua tahu bahwa sebenarnya ia tetap menyayangi ayahnya. Suatu pagi, seperti biasanya kami menemuinya sedang menangis di sudut ruangan, kami pikir seperti biasa ia bertangkar dengan ayahnya. Tapi kali ini ia menangis karena perkataan adiknya, ”kak, jangan-jangan kalau kamu kuliah nanti, aku gak bisa kuliah”. Keluarganya memang bukan keluarga kaya. Dia punya tiga orang adik dan keluarganya mengandalkan hidup dari sebuah toko dirumahnya. Rumahnya juga tidak terlalu besar, lantai bawah sudah dipenuhi barang-barang dagangan untuk tokonya. Sedangkan di lantai atas hanya ada satu ruangan yang dibuat tidur olehnya dan untuk berkumpul keluarganya. Kami selalu berfikir bagaimana ia bisa belajar dengan nyaman di tempat seperti itu dan harus menjaga toko serta adiknya yang masih kecil. Sebenarnya ia ingin menjadi dokter, tapi karena melihat kondisi keluarganya ia mengubur cita-citanya. Saat kami bingung mencari kuliah yang kami senangi, ia bingung mencari kuliah yang hanya membuuhkan biaya kecil. Ia pun memutuskan menjadi guru. Saat kami tanya apakah dia sudah benar-benar tidak ingin menjadi dokter, ia menjawab bahwa ia hanya ingin adik-adiknya kuliah dan sukses. Dia bilang bahwa adiknya lebih berpeluang untuk sukses. Sehingga ia menggunakan tabungannya sendiri untuk masuk kuliah dan menyimpan uang orang tuanya untuk biaya adik-adiknya. Menurutku dia benar-benar berbeda. Mungkin benar bahwa ia dapat masuk ke dalam kelas kami karena sebuah kecelakaan, tapi kemudian ia membuktikan bahwa ia memang benar-benar pantas ada bersama kami. Mungkin benar bahwa diantara kami, dialah yang memiliki masalah paling banyak, tapi ia tidak pernah melampiaskannya pada hal-hal negatif dan tetap fokus pada prioritasnya, belajar . Mungkin benar ia adalah orang yang paling sering menangis, tapi dia selalu mengetahui cara untuk membuatnya selalu kuat dan tidak putus asa. Mungkin benar ia adalah siswa SMU biasa, tapi di atas itu dia adalah orang yang selalu rela berkorban untuk orang-orang yang disayanginya.